Berikan dengan cinta











{June 10, 2008}   Memori Sang Menepela

Renyah!

Itulah kesan pertamaku saat makhluk kecil kering tak berdaya ini menyentuh kedua ujung gigiku. Kutatap lagi matanya yang tertutup rapat…Kupandangi lagi tubuh ringkihnya. Ah kasian kau Menepela..

Tapi rasa ibaku dikalahkan oleh nafsuku untuk melumat tubuhnya yang ringkih. Hmm…makin lama aku makin mendapatkan kenikmatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dibalik tubuh mungilmu dan kulit putihmu, kau memang menyimpan kenikmatan sejati bagi para penikmat makanan laut.

Yah, ikan teri Menepela…Itulah nama yang diberikan penduduk Desa Jala, Kec.Hu’u, Dompu-Nusa Tenggara Barat untukmu. Menepela biasanya akan melimpah pada saat musim hujan. Ikan teri ini merupakan produk unggulan Desa Jala dan lazim dikonsumsi tidak hanya sebagai lauk tetapi juga sebagai cemilan di sore hari karena rasanya yang renyah dan tampilannya mirip kerupuk.

Harganya pun lumayan terjangkau. Dengan harga 30.000, kita akan bisa membawa 1 kilogram ikan teri menepela kering. Harga ini sebenarnya masih jauh dari harapan para nelayan. Karena untuk mengolah ikan teri menepela basah menjadi kering membutuhkan ketelatenan, keahlian serta waktu yang tidak sedikit.

Adakah diantara pembaca yang bisa membantu pemasaran teri menepela ini agar para nelayan Desa Jala bisa menikmati harga yang lebih layak?

Penikmat Hasil laut

 

 

 

 



et cetera